Desa Wae Rebo, 7 Rumah Sopan Santun Layaknya Nirwana Di Atas Awan.

Diposting pada 367 views

Meski lokasinya berada jauh dari keramaian dan terpencil di pegunungan, namun Desa Wae Rebo sangat terkenal. Desa Wae Rebo merupakan sebuah tempat yang bersejarah sehingga menjadi situs warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 2012 yang lalu.

Meski lokasinya berada jauh dari keramaian dan terpencil di pegunungan Desa Wae Rebo, 7 Rumah Adat Layaknya Surga di Atas Awan.
Desa Wae Rebo. Image via: @eksan__san

Wisata desa Wae Rebo justru lebih terkenal di mata pengunjung ajaib dari Negara-negara di Eropa. Umumnya mereka tiba alasannya yaitu tertarik desain arsitektur bangunan kuno yang mempunyai daya tarik tinggi.

Desa Wae Rebo di Flores yang terletak pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Ini layaknya sebuah nirwana yang  berada di atas awan. Perlu usaha untuk sanggup mencapainya, namun apa yang didapat ketika hingga ke lokasi sebanding dengan perjalanan yang dilalui.

Pemandangan alam berupa gunung-gunung berpadu dengan 7 rumah moral berbentuk kerucut akan memberi kesan tersendiri bagi setiap pengunjung yang pernah tiba ke Desa Wae Rebo. Benar-benar keindahan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Selain rumah moral yang menjadi daya tarik, kehidupan masyarakatnya juga sangat menarik untuk diketahui. Sebagian masyarakat bertani dan wanitanya menciptakan tenun. Ada pula kebun kopi, biasanya pengunjung akan dihidangkan kopi khas Flores yang nikmat.

Namun sangat disayangkan, kenyataannya tempat seindah ini masih ajaib bagi masyarakat Indonesia padahal sangat terkenal di mancanegara.

Meski lokasinya berada jauh dari keramaian dan terpencil di pegunungan Desa Wae Rebo, 7 Rumah Adat Layaknya Surga di Atas Awan.
Pagi di Wae Rebo. Image via: @raskal

Simak juga: Tempat wisata di sekitar Kupang NTT

Lokasi Desa Wae Rebo

Kampung Desa moral Wae Rebo, secara administratif masuk dalam wilayah  Desa Satarlenda, Kecamatan Satarmese Barat, Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Desa tradisional ini terletak di ketinggian 1.200 m di atas permukaan laut. Ini membuatnya menjadi salah satu desa tertinggi di Indonesia.

Rute Menuju Desa Wae Rebo

Untuk mencapai ke Desa Wae Rebo harus melalui perjalanan panjang terlebih dahulu. Pemberhentian pertama penerbangan  dari Jakarta yaitu di Denpasar dan kemudian dilanjutkan dengan pesawat menuju Labuan Bajo. Dari Labuan Bajo lanjut 2-3 jam perjalanan darat dengan kendaraan beroda empat menuju Denge.

Perjalanan belum berhenti hingga di situ, Wae Rebo yang berada di lembah diantara pegunungan, hanya sanggup ditempuh melalui jalan kaki dari Denge, desa terdekat dengan Desa Wae Rebo yang masih sanggup diakses oleh mobil.

Meski lokasinya berada jauh dari keramaian dan terpencil di pegunungan Desa Wae Rebo, 7 Rumah Adat Layaknya Surga di Atas Awan.
Wajah Wae Rebo. Image via: bobo.grid.id

Perjalanan dari Denge menuju Wae Rebo, kira-kira memakan waktu pendakian selama 3 jam dengan menyusuri tempat terpencil yang dikelilingi hutan lebat yang belum terjamah, menyebrangi sungai serta melintasi bibir jurang.

Sepanjang 8-9 kilometer perjalanan terdapat 3 pos pemberhentian untuk beristirahat sejenak. Jangan lupa membawa persediaan air minum dan masakan kecil selama diperjalanan. Perjalanan saya kali ini membutuhkan persiapan fisik yang ekstra ditambah dengan serba minimnya fasilitas yang ada.

Jam Buka Desa Wae Rebo

Desa Wae Rebo terbuka 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Hal ini alasannya yaitu desa ini juga menyediakan akomodasi menginap.

Tiket Desa Wae Rebo

Tidak ada pungutan yang dibayarkan untuk mengubnjungi desa ini.

Kalaupuna da biaya yang harus disiapkan itu yaitu biaya perjalanan. Apabila memakai ojek dari Ruteng untuk sanggup hingga ke Desa Denge, maka biaya yang dikeluarkan lebih mahal, sanggup mencapai Rp 150.000-200.000 sekali antar. Lebih ekonomis bila memakai truk kayu yang hanya dikenakan tarif Rp 30.000 per orang.

Meski lokasinya berada jauh dari keramaian dan terpencil di pegunungan Desa Wae Rebo, 7 Rumah Adat Layaknya Surga di Atas Awan.
Desa di Awan. Image via: superadventure.co.id

Simak juga:  Watu Payung Turunan

Fasilitas Desa Wae Rebo

Untuk fasilitas, di Desa Denge ada sebuah home stay yang sanggup dipakai untuk menginap. Tidak jauh dari home stay ada sentra isu dan perpustakaan.

Saat tiba di Desa Wae Rebo, pengunjung sanggup menumpang di rumah moral milik masyarakat setempat bila ingin menginap. Di sini tidak ada home stay atau penginapan khusus alasannya yaitu hanya terdiri dari 7 rumah adat.

Hal Menarik Desa Wae Rebo

  1. Termasuk Salah Satu Desa Tertinggi di Indonesia

Meski lokasinya berada jauh dari keramaian dan terpencil di pegunungan Desa Wae Rebo, 7 Rumah Adat Layaknya Surga di Atas Awan.
Desa di Pegunungan. Image via: semutijo.com

Desa Wae Rebo termasuk ke dalam daftar desa tertinggi di Indonesia. Berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan bahari (mdpl) menciptakan Wae Rebo kerap dihiasi dengan kabut tipis setiap paginya. Kabut tipis ini akan turun perlahan-lahan dari perbukitan sekitar dan menyelimuti seluruh desa dengan kabut.

Karena lokasinya yang berada pada ketinggian ini pula, untuk mencapai Desa Wae Rebo ini pengunjung harus melaksanakan trekking selama dua hingga tiga jam melalui medan yang cukup sulit.

Disarankan untuk menyewa jasa guide sebagai penunjuk jalan dan juga usahakan untuk bermalam di Wae Rebo selain untuk menikmati keindahannya lebih lama, juga untuk menyimpan tenaga untuk trekking kembali keesokan harinya.

  1. Memiliki Tujuh Rumah Utama

Meski lokasinya berada jauh dari keramaian dan terpencil di pegunungan Desa Wae Rebo, 7 Rumah Adat Layaknya Surga di Atas Awan.
Rumah Kerucut Wae Rebo. Image via: superadventure.co.id

Simak juga:  Air Terjun Kapas Biru

Di sini sanggup kita jumpai rumah moral yang hanya terdiri dari 7 buah di mana telah bertahan selama 19 generasi. Hal ini pula yang menjadi daya tarik para wisatawan khususnya dari mancanegara. Mereka umumnya ingin tau ingin melihat pribadi rumah moral yang disebut dengan Mbaru Niang ini.

Terbuat dari kayu dengan atap dari ilalang yang dianyam. Bentuk Mbaru Niang mengerucut ke atas, sebuah arsitektural tradisional yang sangat unik. Mbaru Niang terdiri dari lima lantai dengan atap daun lontar dan ditutupi oleh ijuk.

Tujuh Mbaru Niang ini berkumpul di lahan luas yang hijau dengan dihiasi bukit-bukit indah di sekitarnya. Setiap rumah dihuni oleh enam hingga delapan keluarga.

Setiap pengunjung yang tiba akan dijamu di dalam satu Mbaru Niang yang disediakan khusus untuk menyambut pengunjung yang tiba melancong. Pengunjung akan diberikan jamuan berupa Kopi Flores sebagai welcome drink di Mbaru Niang ini.

Bagi pengunjung yang ingin bermalam, sanggup menginap di Mbaru Niang ini. Sudah disediakan selimut dan bantal seadanya.

Desa Wae Rebo merupakan sebuah tempat yang bersejarah sehingga menjadi situs warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 2012 yang lalu.

  1. Upacara Adat Penti

Meski lokasinya berada jauh dari keramaian dan terpencil di pegunungan Desa Wae Rebo, 7 Rumah Adat Layaknya Surga di Atas Awan.
Upacara Penti. Image via: pedomanwisata.com

Setiap bulan November, warga di Desa Wae Rebo merayakan Upacara Adat Penti, yaitu perayaan untuk mengucapkan rasa syukur berkat hasil panen yang didapatkan dalam setahun serta memohon keharmonisan dan perlindungan.

Saat perayaan dilakukan, para penduduknya akan mengenakan pakaian moral lengkap dengan aksesorinya. Bagi Pengunjung yang merencanakan untuk mengunjungi desa ini, sebaiknya samakan jadwal Pengunjung dengan upacara moral ini semoga kunjungan lebih bermakna alasannya yaitu lebih banyak atraksi dan nilai yang sanggup Pengunjung lihat.

  1. Penduduk Wae Rebo yaitu Keturunan Minang

Walaupun Wae Rebo yaitu perkampungan di Manggarai Barat, NTT, tetapi ternyata warga desanya mengklaim bahwa mereka yaitu keturunan Minang dari Sumatera Barat.

Meski lokasinya berada jauh dari keramaian dan terpencil di pegunungan Desa Wae Rebo, 7 Rumah Adat Layaknya Surga di Atas Awan.
Duel Kesatria Awan. Image via: pegipegi.com

Simak juga: Desa Ranu Pani di Ketinggian Semeru

Nenek Moyang masyarakat Wae Rebo berjulukan Empo Maro. Ia berasal dari Minangkabau, Sumatera. Dikisahkan bahwa ia dan keluarganya berlayar dari Sumatera ke Labuan Bajo. Empo Maro tidak pribadi menemukan tempat tinggal yang kini menjadi tempat suku Wae Rebo.

Beliau beberapa kali pindah dari Waraloka, Mangapa’ang, Todo, Papo, Liho, Mofo, Golo Pondo, Ndara, Golo Pando, Golo Damu. Namun balasannya ia menetap permanen di Wae Rebo di mana kini keturunannya tinggal.

Walaupun mereka merupakan keturunan Minang, namun nama-nama penduduknya tidak menyerupai nama orang Minang kebanyakan.

  1. Cinta NKRI

Walaupun terpencil, Wae Rebo tetaplah bab dari Indonesia. Ketika Hari Kemerdekaan, selalu ada upacara untuk memperingatinya.

Uniknya, warga Wae Rebo akan memasang bendera Indonesia di atas rumah moral yang berbentuk kerucut tersebut ketika upacara bendera berlangsung. Beberapa orang saling membantu untuk memastikan bendera berdiri dengan kokoh.

Meski lokasinya berada jauh dari keramaian dan terpencil di pegunungan Desa Wae Rebo, 7 Rumah Adat Layaknya Surga di Atas Awan.
Pengibaran Sang Saka Merah Putih. Image via: phinemo.com

Tips Mengunjungi Desa Wae Rebo

Mengingat lokasi wisata Desa Wae Rebo berbeda dari lokasi lain, khususnya dari segi rintangand alam perjalanan, maka membutuhkan persiapan matang. Berikut beberapa persiapan yang sebiaknay diperharikan untuk mengunjungi desa tertinggi di NTT ini.

  • Ransel yang cukup kuat

Untuk perjalanan ini yang cocok yaitu tas ransel. Untuk membawa semua barang menuju Wae Rebo dengan berjalan kaki selama 4 jam dengan medan yang tak sanggup dibilang mudah.

Barang selain kebutuhan primer dan koper, sebaiknya dititipkan di penginapan di Denge atau Dintor. Bisa diambil kembali ketika kembali dari Wae Rebo, semoga tidak menjadi beban ketika berjalan.

  • Sepatu hiking

Alas kaki yang sempurna menjadi hal penting dalam perjalanan kali ini mengingat medan yang akan ditempuh. Tidak disarankan memakai sandal gunung, alasannya yaitu jika pada demam isu hujan jalanan menjadi becek dan itu menciptakan tidak nyaman bila air masuk ke dalam sandal.

Sepatu juga sebaiknya dipilih yang mempunyai sol yang “menggigit” tanah dengan baik alasannya yaitu di beberapa bab terdapat medan berpasir yang cukup licin.

Meski lokasinya berada jauh dari keramaian dan terpencil di pegunungan Desa Wae Rebo, 7 Rumah Adat Layaknya Surga di Atas Awan.
Malam di Wae Rebo. Image via: travel.tribunnews.com

Simak juga: Desa Tua Desa Sawai

  • Jaket dan kaos kaki untuk tidur

Suhu di Wae Rebo pada malam hari cukup masbodoh alasannya yaitu letak geografis Wae Rebo yang berada di dataran tinggi. Meskipun untuk bermalam di Mbaru Niang Wae Rebo telah disiapkan ganjal tidur dan selimut tebal, namun jaket dan kaos kaki  akan tetap mempunyai kegunaan di malam hari.

  • Ambil uang tunai di Labuan Bajo

Setelah meninggalkan Labuan Bajo sudah tidak ditemukan ATM, sehingga siapkan uang tunai secukupnya di Labuan Bajo untuk membayar penginapan, bensin mobil, sewa pemandu dan porter, serta uang lebih untuk membeli oleh-oleh khas Desa Wae Rebo.

  • Baterai cadangan

Di Wae Rebo susukan listrik sangat terbatas, listrik hanya menyala dari pukul 6 sore hingga 10 malam saja, sehingga untuk memenuhi hasrat memakai alat elektronik disarankan membawa baterai cadangan. Baterai diperlukan untuk kamera saja, alasannya yaitu HP tidak berfungsi di desa Wae Rebo.

  • Persiapan fisik

Trekking panjang menuju Wae Rebo membutuhkan fisik yang baik.

Meski lokasinya berada jauh dari keramaian dan terpencil di pegunungan Desa Wae Rebo, 7 Rumah Adat Layaknya Surga di Atas Awan.
Anak-Anak Wae Rebo. Image via: kumparan.com

Objek Wisata Dekat Desa Wae Rebo

Selain Wae Rebo, perkampungan moral yang juga menarik di Kabupaten Manggarai yaitu Kampung Todo. Di masa lalu, tempat ini merupakan salah satu sentra Kerajaan Todo. Kehidupan dan kearifan lokal masyarakat di tempat ini akan menciptakan anda betah berlama-lama untuk tinggal.

Selain desa tradisional, sistem pertanian masyarakat Kabupaten Mangarai juga unik. Salah satu yang menarik yaitu Sawah Lodok di Lembor. Kawasan persawahan ini berbentuk jaring laba-laba. Jaring laba-laba ini terbentuk alasannya yaitu sistem pembagian lahan persawahannya berbentuk lodok.

Itulah banyak sekali isu menarik mengenai desa Wae Rebo di Manggarai NTT. Jika anda mulai lelah dengan segala kegiatan yang ada, maka segera rencanakan untuk mengunjungi tempat kolam nirwana ini.

Selamat Berlibur.